Website sedang dalam pengembangan

Follow
@fixer.indonesia
untuk informasi kegiatan

FIXER 2021

FIXER adalah inisiatif penelitian berkelanjutan untuk membaca dan memetakan berbagai perkembangan yang terjadi pada praktik kolektif seni di Indonesia. Penelitian ini berfokus pada strategi keberlangsungan ekonomi mandiri dan gagasan dari gerakan-gerakan dan praktik seni yang dikembangkan oleh kolektif/organisasi/ruang alternatif seni dari berbagai generasi dan wilayah yang ada di Indonesia.

Digagas pertama kali pada tahun 2010 dengan tajuk “Pameran Ruang Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia” di North Art Space serta dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Efendi, proyek ini kemudian dikembangkan oleh Gudskul: Studi Kolektif dan Ekosistem Seni Rupa Kontemporer sejak 2019.

“27an tidak hanya berhenti pada kesepakatan bersama untuk menegaskan bahwa tanah sebagai bahan, lahan dan gagasan adalah identitas Jatiwangi.”

Arie Syarifuddin
Jatiwangi art Factory (JaF), Majalengka

“Modus berorganisasi dan berkolektif tidak dibatasi pada preferensi estetik ataupun sekadar jaringan pertemanan (peer to peer based on social network), melainkan pada orientasi pembangunan ekosistem seni bersama yang lebih sehat dan saling menguntungkan,”

Rakarsa, Bandung

“Belakangan, kami menyadari bahwa setiap organisasi memiliki karakter persoalan sendiri, dan memiliki cara tersendiri pula dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Hal ini mengharuskan Pasirputih untuk membaca, mencari strategi, dan memecahkan persoalannya secara mandiri,”

Pasirputih, Lombok

"Sejak Ladang Rupa terbentuk lima tahun yang lalu, kami bergerak dengan modal kesadaran bahwa kami harus berbuat sesuatu, dimulai dari kota tempat kami berasal."

Hidayatul Azmi
Ladang Rupa, Padang

“Hasil simbiosis antara keduanya mampu meningkatkan sumber daya manusia di Mollo dan juga menghasilkan beberapa produk kreatif yang dapat mendukung keberlanjutan program mereka,”

Lakoat.Kujawas, Nusa Tenggara Timur

“Ternyata anggapan saya selama ini bahwa seni tidak terlalu berperan dalam konflik di Aceh, keliru,”

Putra Hidayatullah
Komunitas Tikar Pandan, Aceh

“Jangan pernah percaya bahwa pasar bisa diciptakan. Sejak awal, pasar sudah ada. Masalahnya, apakah itu pasar arus utama atau alternatif, dan apakah kita berhasil mengidentifikasi dan memasuki lingkaran pertukaran tersebut?”

Adin
Kolektif Hysteria, Semarang

“Pergerakan Taring Padi pada akhir 90-an memiliki “daya tarik” yang kemudian menjadi identitas karakter kolektif,”

Ladija Triana Dewi
Taring Padi, Yogyakarta

“Gagasan sustainabilitas mengartikulasikan momen-momen penting ketika sumber daya, infrastruktur dan akses dipergunakan, dimaknai, diciptakan dan dipikirkan kembali.”

Nuraini Juliastuti
Pendiri KUNCI Study Forum and Collective, Yogyakarta

Buku Mengeja FIXER

Buku Mengeja FIXER

Buku ini merupakan hasil penelitian komprehensif terhadap 53 kolektif seni di Indonesia yang aktif selama rentang 2011-2021. Buku ini dicetak dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Buku "Mengeja FIXER 2021" versi Bahasa Indonesia dapat dipesan melalui:

Direktori Kolektif

Direktori Kolektif Preview

Direktori Kolektif

Dengan menyusuri peta kolektif FIXER, Anda dapat melihat berbagai kolektif seni yang masuk ke dalam riset FIXER 2021. Kabar baiknya, kecenderungan yang dapat dilihat bahwa keberadaan kolektif seni di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tidak terkonsentrasi di Jawa saja, melainkan juga di pulau-pulau lainnya.

LIHAT PETA

Seri Diskusi IG Live Mengeja FIXER

Menyambut terbitnya buku FIXER, diadakanlah program publik, Mengeja FIXER: Serial Nongkrong Kolektif. Mengeja FIXER diadakan melalui live Instagram pada akun @fixer.indonesia.Mengeja FIXER telah diadakan sebanyak 12 kali sepanjang April - Agustus 2021. Di dalam Mengeja FIXER, berisi obrolan hangat bersama beberapa penulis tamu dan perwakilan kolektif yang menyumbangkan tulisannya untuk buku FIXER

Mengeja FIXER adalah bincang-bincang santai a la nongkrong kolektif seni. Tentu saja perbincangannya akan mengupas A – Z kolektif seni di Indonesia; perkembangan, gagasan, regenerasi, keseharian, dll., dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan tentu saja imajinasi dan serta rencana kolektif seni kedepannya

#12

Kreativitas Tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme

Grace Samboh & Ugeng Moetidjo
#11

Permainan Dunia Seni: Membaca Lebih Jauh Perihal Eksperimentasi Kolektif Seni

Doni Ahmad (Kurator, Bandung)
#10

Alternatif Pendidikan Seni yang Nekat dan Tahan Banting: Kolektif Seniman Muda di Bukittinggi

Hidayatul Azmi (Ladang Rupa, Bukittinggi)
#9

Cerita dari Pasirputih: Merawat Ingatan, Membangun Keberlanjutan

Muhammad Sibawaihi (Pasirputih, Lombok)
#8

Lumbung: Berbagi Daya, Berbagi Kuasa

Renal Rinoza (Penulis)
#7

Evaluasi Prematur: Koperasi Sebagai Model Kerja Kolektif di Bandung

Endira F. Julianda & Vincent Rumahloine (Rakarsa, Bandung)
#6

Simbiosis Mutualisme Lakoat.Kujawas dan Mollo: Jalan Lain Membangun Desa

Dicky Senda, Lakoat.Kujawas (Nusa Tenggara Timur)
#5

Analisis Pengaruh Menemani Minum Teh Terhadap Kebijakan Pemerintah, Istri, Keluarga dan Handai Tolan Jatiwangi art Factory.

Jatiwangi art Factory (Majalengka)
#4

Mengurai Ingatan: Memaknai 23 Tahun Keberadaan Kolektif Taring Padi

Taring Padi (Yogyakarta)
#3

Seni Hidup: Praktik Eksperimen Strategi Pertahanan Hidup Mandiri dalam Ruang Seni Budaya Independen

Nuraini Juliastuti (KUNCI Study Forum and Collective, Yogyakarta)
#2

Manifesto Seni Tulang Lunak Bandeng Juwana: Strategi Bertahan Kolektif Seni di Luar Bandung - Jakarta - Yogyakarta

Adin (Kolektif Hysteria, Semarang)
#1

Pergerakan Kolektif Seni di Aceh

Putra Hidayatullah (Tikar Pandan, Banda Aceh)

Seri Diskusi Mengeja FIXER Keliling 8 Kota

Seri diskusi delapan kota diadakan sepanjang Desember 2021 sebagai ajang promosi buku Mengeja FIXER 2021 dengan berkolaborasi dengan kolektif seni dan universitas yang ada di kota tujuan. Mengeja FIXER Keliling ini diadakan di Makassar, Semarang, Yogyakarta, Padang Panjang, Bandung, Medan, Kuningan, dan Jakarta.

Mengeja FIXER Keliling #8

Berkolektif, Penting atau Gak Penting Sih?

Dr. Uhar Suharsaputra , M.Pd. (Ketua Dewan Kebudayaan Kuningan), Opik Stones (Musisi, Omah Balong, Kuningan)
Mengeja FIXER Keliling #7

Bikin Karya Seni Kolektif Buat Apa?

Oky Arfie (Seniman & Dosen DKV FSR IKJ), Saleh Husein (Seniman), Angga Wijaya (Gudskul), Gesyada Siregar (Gudskul)
Mengeja FIXER Keliling #6

Praktik Kolektif di Skena Musik Indie Kota Medan

Mahalia Nola Pohan (Dosen Hukum & Vokalis Au Revoir), Muhammad Zikri Asmara/Obo Asmara (Dosen Universitas Sumatera Utara & Founder Medan Indie Voice & Movement and Voice)
Mengeja FIXER Keliling #5

Dimana Seninya? Membedah Proses Kreasi Karya Kolektif

Agung Eko Sutrisno (Kapital Space), Fitria Dwi Ayuningtyas (Lokus Art & Sains), Gesyada Siregar (Gudskul Ekosistem & Periset FIXER), Kiki Rizky Soetisna Putri (pengajar & peneliti, FSRD ITB), dan Yacobus Ari Respati (pengajar, FSRD ITB).
Mengeja FIXER Keliling #4

Melihat Kolektif Bekerja

Albert Rahman Putra (Gubuak Kopi), Dede Pramayoza (Dosen ISI Padang Panjang & Pengelola Festival), Tim Riset FIXER, Aza Khiatun Nisa (Rumah Tamera)
Mengeja FIXER Keliling #3

Kolektivitas dan Praktik Kewargaan yang Lain

Zita Laras (Anggota Sekolah Salah Didik dan Dosen Pembangunan Sosial & Kesejahteraan, Universitas Gajah Mada)
Mengeja FIXER Keliling #2

Kolektif Seni di Semarang: Manifesto Seni Tulang Lunak Bandeng Juwana

Adin (Kolektif Hysteria), Singgih Adhi Prasetyo (Dosen Seni Rupa, Universitas PGRI Semarang & Pelukis), Tim Riset FIXER, Pujo Nugroho (Kolektif Hysteria)
Mengeja FIXER Keliling #1

PVP vs PVE: Bermain-main dalam Mengelola Kolektif

Zulkhair Burhan (Pendiri Kedai Buku Jenny), M. Rais, Pendiri (SIKU Ruang Terpadu), Doni Ahmad (Kurator), Gesyada Siregar (Periset FIXER)